Rabu, 25 Maret 2015

Secercah Penjelasan tentang Aqidah Iman Asy’ari




Sebelum memasuki inti dari pembahasan  ini, alangkah indah dan baiknya, terlebih dahulu kita mengenal nama dan kuniyah serta gelar dari Sang Imam Ahlusunnah Waljama’ah. Didalam kitab Al-wasit  Fi Aqo’id  Al-imam Asy’ary  yang dikarang oleh cendikiawan muslim Baghdad  Shaik Syahid Ahmad Mukhlis Al-rawi, bahwa nama Imam Asy’ari  adalah  Ali bin Ismail bin Abu Bisyr, kuniyah beliau  Abul Hasan , dan sedangkan gelar-nya adalah  Al-Asy’ari, yang dinisbahkan kepada salah satu sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasllam, yaitu  Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu. Dan sebagaimana yang telah sama-sama kita ketahui bahwa, Imam Asy’ari dikenal sebagai sebagai seorang Mutakallim yang handal dan sangat luar biasa, yang membentengi Aqidah umat Islam dari pemahaman-pemahaman yang telah menyimpang dari ajaran Islam yang suci, sehingga sangat pantas dan layak, bila ajaran serta konsep yang dilahirkan oleh Imam Asy’ari, menjadi panutan serta pegangan bagi seluruh umat Islam dunia, karena sesungguhnya beliau bukanlah menciptakan ajaran baru dalam Islam, namun sebaliknya beliau hanya memperkokoh dan memperkuat ajaran-ajaran Salaf al-shaleh. Beliau lahir pada tahun  260 H di Bashrah, Irak. Namun ada juga yang mengatakan tahun 270 H, ini tentunya disana ada perbedaan pendapat diantara Ahli sejarah dan Ulama, dan pendapat yang dikuatkan oleh Al-hafiz ibnu Asaakir RH, tahun 260 H, begitu juga hal-nya tentang tahun wafatnya Imam Asy’ari Rahimahullah, meskipun ada perbedaan pendapat, namun pendapat yang kuat dan mu’tamad bahwa, beliau wafat di Baghdad tahun 324 H.
Penulis mengutip keterangan dari sebuah kitab yang berjudul أهل السنة الأشاعرة شهادة علماء الأمة  وأدلتهم    Yang dikarang oleh Shaik حمد السنان  فوزي العنجري   bahwa Aqidah Imam Asy’ari tidak berbeda alias sama persis dengan Aqidahnya Para Imam Madzhab, seperti aqidahnya Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah beserta para ashaabnya. (terjemah bebas)
Dan tentunya ini menunjukan bahwa aqidah Imam asy’ari sejalan dengan aqidahnya salafu al-shaleh serta ahli ilmu,  dari zaman kezaman hingga sampai diera globalisai yang serba canggih realita sekarang ini.

Dan tentunya, ketika bebicara tentang Imam Asy’ari, sudah tidak asing lagi ditelinga bagi mereka yang mendengar, melihat dan berpikir, adalah bahwa Imam Asya’ari imamnya Umat Islam mayoritas dari zaman kezaman, masa ke masa di Indonesia, Mesir, serta Negara-negara lainnya didunia yang fana ini. Termaktub dalam kitab     شرح الخريدة البهية  halaman 35, disebutkan bahwa  Shaikh al-Islam  Al’izzu bin Abdissalaam, Dan Ibnu Hajib beserta Ulama-ulama kibar lainnya, menyatakan aqidah Imam Asy’ari dianut oleh para Pengikut Syafi’iyah, Malikiyah, Hanafiyah dan  pembesar-pembesar hanabilah kecuali yang sadz diantara mereka. Ini sejalan dengan keterangan yang penulis paparkan sebelumnya.  Dan diantara pembesar dan pengikut Imam Abul Hasan Asy’ri, seperti  Imam Baqilani,  Abu Ishak al-sayrazi,  Imam Al-ramain, Hujjatu al-Islam Alghazali, Imam Subki, Imam Nawawi, Rafi’I , Amirul mu’minin dalam hadist Ibnu Hajar  asqolaani dan haitami, serta Imam suyuti rahimahumullahu ajma’in dan lain sebagainya yang tidak bisa satu persatu penulis tuliskan, dikarenakan banyaknya jumlah pengikut Imam Asy’ari, dan mereka semua adalah para ahli ilmu dan orang-orang yang sholeh.



Menurut sependek pengetahuan Penulis, bahwa ketika membahas tentang Aqidah didalam beragama, tentu ini berkaitan dengan konsekwensi hukum yang berlaku, kalau misalnya, hukum dalam permasalahan seputar Fiqih hanya berupa wajib, sunnah, makruh dan mubah serta lain sebagainya, maka berbeda dengan permasalahan aqidah, hanya ada dua hukum dalam aqidah, yaitu Iman dan Kafir, karena aqidah adalah  usulluddin atau dasar agama yang tidak boleh salah dalam berkeyakinan atau ada keraguan, mesikupun 1%  dari 100 %, berbeda dengan hal-nya mengenai Fiqih,  jika salah maupun benar , hanya berkaitan dengan dosa, pahala, serta fasiq namun tetap masih dalam golongan umat Islam dan tidak sampai kafir yang nanti kekal dineraka-Nya. Dan tentunya, tidak serta merta kita harus tergesa-gesa mengkafirkan seseorang atau golongan, kelompok dalam aqidah, dikarenakan tidak sejalan dan sepaham dengan keyakinan yang telah kita yakini,  Pengkafiran dalam Aqidah, ada dalam perkara yang dhoruri atau yang Qoth’iyaat,  sebagai contoh, ada seseorang yang tidak meyakini Allah Subhanahu Wata’aalaa itu bukanlah  Tuhan Pencipta alam beserta isinya,  dan tidak beriman bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam utusan Allah Subhanahu Wata’aalaa, serta mengingkari rukun Islam yang lima, dan lain sebagainya yang sifatnya dharury.
Nah, sedangkan permasalahan yag sifatnya bukan dharuri, seperti  istidlalnya para Ulama dan ahli ilmu  dalam menyikapi ayat-ayat sifhat (khabariyah)  didalam Alquran, tentu ini harus membutuhkan kehati-hatian menyimpulkan serta menghukuminya, maka penulis sengaja membatasi pembahasan kali ini, hanya seputar perbedaan pendapat antara Asy’ari dan Salafi dalam konteks aqidah Islamiyah yang terkhusus kepada ayat-ayat Shifat (khabariyah). Untuk kali ini, penulis akan menuliskan  methode Imam Asy’ari dalam menyikapi ayat-ayat shifat ataupun khabariyah dalam Alquran.

Ada dua methode Imam Asy’ari dalam menetapkan ayat-ayat shifat (khabariyah).

Pertama :  Tafhwidh, dan ini selaras dengan pendapat ‘ulama Salaf,
Kedua       : Ta’wil, ini sejalan dengan pendapat ‘ulama Khalaf

Perlu diperhatikan, Tidak semua ‘ulama salaf itu selalu menggunakan method tafhwidh  dalam permasalahan ayat-ayat shifat  (khabariyah),  sehingga bisa dikatakan bahwa ulama salaf  itu selalu tafhwidh, karena terkadang, ada juga diantara ‘ulama salaf  yang menta’wil, dan begitu juga sebaliknya, tidak semua ‘ulama khalaf itu menggunakan methode ta’wil, karena ada juga diantara ‘ulama khalaf memilih tafhwidh dalam permasalahan seputar ayat-ayat shifat. Maka oleh karena itu, boleh dikatakan, bahwa mayoritas ‘ulama salaf itu menggunakan tafhwidh, dan sedangkan ‘ulama khalaf, mayoritasnya menggunakan ta’wil.
Dan  terdapat banyak ulama yang menyebutkan, bahwa imam asy’ari mempunyai dua metodhe, dan ini sejalan dengan pendapat  para ‘ulama-ulama asya’irah, seperti Qhadi baqilani yang disebut sebagai Mu’assis kedua asya’irah, yang beliau ada menfwidh ayat-ayat shifat ataupun khabariyah, seperti dalam kitabnya al-inshof, beliau ada metakwil ayat istiwa denga istilaa’ yang berarti menguasai bukan menetap apalagi bersemayam, serta sebagaiman buku yang penulis baca, ditemukan  ada perkataan Imam Baihaqqi menyatakan, bahwa Imam Asy’ari mentakwil ayat istiwa’ dengan sifat perbuatan (fi’lun), tentu ini sangat jauh sekali dari makna yang sesungguhnya seperti menetap, bersemayam, duduk, dan lain sebagainya menurut makna dzhohirnya.

Mungkin untuk sementara, saya cukupkan sampai disini pembahasan mengenai methode Imam Asy’ari, karena terlalu panjang dan sangat luas pembahasan ini, jadi penulis hanya meringkas seringkas ringkasnya, dan tentunya bisa dikembangkan dalam diskusi nantinya.
Sebelum penulis tutup pembahasan diatas, mari kita simak kalamnya Imam Al-idzi shohibu al-mawaakif, mawaakif salah satu kitab muthawalat dan mu’tamad yang dikaji dimesjid Al-azhar oleh Shaikh Al-mutakallim Hasan syafi’i


يقول الإمام الإيجي رحمه الله :   لما وصف تعالى بالاستواء في قوله تالى : الرحمن على العرش استوى  (طه :5 )

اختلف الأصحاب فيه : فقال الأكثرون : هو الاستيلاء , ويعود الاستواء حينئذ إلى صفة القدرة . قال الشاعر :

فد استوي بشر على العراق                    من غير سيف ودم مهرا ق                                                    

        وقال الأخر :                                                                                                                      

فلما علونا واستوينا عليهم          تركناهم صراعى لنسر وطائر

Minggu, 22 Maret 2015

Perbedaan Pendapat dikalangan Asya'iroh

Meskipun ditemukan adanya perbedaan pendapat, dikalangan Ulama Asya'iroh Ahlussunnah Waljamaah, namun bukan berarti ini semua adalah sesuatu yang bermasalah sehingga harus mengeluarkan mereka dari golongan Asya'iroh.
Mereka tetap dikatakan sebagai Ulama Asya'iroh Ahlussunah Waljamah, karena perbedaan pendapat adalah sesuatu Hal yang biasa dikalangan Ahli Ilmu, ini menunjukan bahwa, tidak ada istilah Taqlid buta dan kefanatikan dalam bermanhaj,
Sebagian kalangan Ulama Asya'iroh ada yang mengatakan bahwa kaum muktazilah sudah keluar dari Islam, karena mereka Muktazila berpendapat al-'adamu (Tidak ada) adalah sesuatu,
Sebagaimana pada umumnya dikalangan Asya'iroh yang namanya sesuatu itu adalah ada wujudnya direalita.
dan jika al-adamu ( Tidak ada) dikatakan sesuatu, maka ini berkonskwensi adanya Alam di Azali, atau bahasa sederhananya ada makhluq yang tidak ada permulaannya alias qodim,
Namun, pendapat yang mu'tamad disisi Ahlussunnah Waljamaah ( Asya'iroh ) adalah,
golongan orang muktazilah masih termasuk Islam. ini lah pendapat yang kuat, karena Para Ulama Mengatakan :
لازم المذهب لا يعد مذهباً إلا أن يكون لازماً بيناً
Wallahu'alam .

Sabtu, 21 Maret 2015

Cerpen

"Cinta terlarang "
Wanita berkulit putih dengan rambut panjang dan kriting, serta hidung yang mancung berkerabu itu terkejut, dan tidak habis pikir, bagaimana bisa kata-kata perpisahan itu diucapkan dari kekasih yang dicintainya,
Terjadilah dialog sengit yang berkecamuk antara dua sepasang kekasih yang belum halal lagi diridhoi.
Namun, sebelum dialog itu terjadi, terlebih dahulu lelaki itu menelepon pacarnya, agar mau bertemu disuatu tempat, yang sunyi sepi tanpa ada seorangpun yang mengganggu,
Hp Nokia C1-00 milik wanita itupun berdering dering, sebagai isyarat bahwa ada yang memanggil-manggil dirinya, siapakah gerangan yang pagi-pagi buta, belum lagi sempat cuci muka, sudah ada yang menelepon. Dengan raut wajah yang cemberut serta rambut yang acak-acakan, tanpa membaca Al-basmalah Hp-nya diangkat.
Lelaki : Assalamu'alaikum Wr wb, Hallo Bebh , sore hari ini, aku ingin bertemu denganmu, Penting kali
Wanita : Waalaikumussalam Wr. wb, ohhh, iya Cintaqu, ada apa ? dan dimana ?
L : nanti saja aku ceritakan ada apanya, kita bertemu ditempat yg biasanya kita mojok. ( baca : duduk berduaan ditempat sepi)
W : iya, sampai ketemu nanti sore, ea my love smile emotikon
L : Oke, siip, Don't forget
Seiring berjalannya waktu, detik demi detik, jam dinding terus berputar, waktu sore mulai ingin menyapa, dan pertemuan itu sudah mulai nampak titik terang. Dengan hati yang bimbang lagi berdoa, lelaki itu sudah bertekad keras, untuk mengakhiri sebuah hubungan yang tidak semestinya, meski berat rasanya, namun dalam hati kecilnya berkata : lebih berat lagi terasa di akhirat, bila hubungan ini tetap diteruskan. Astaghfirullah, mulutnya komat kamit membaca istighfar.
Akhirnya, Tanpa disadari, waktu sore telah tiba, lelaki itupun bergegas, dan berjalan menuju suatu tempat yang dimana, ditempat itu lah dia akan mengakhiri kisah cinta terlarangnya dengan kekasihnya.
Ternyata, wanita (kekasihnya) sudah duluan sampai ditempat itu, duduk manis seraya menunggu pujaan hatinya,
Untuk mempersingkat, terjadilah dialog yang sengit antara Sepasang kekasih terlarang itu.
Begini dialognya_
Lelaki : sebenarnya, ada yang ingin kusampaikan kepadamu, tapi aku bingung dari mana memulainya.
Wanita : Emank ada apa rupanya? kok bingung sihhh, aneeeeeh. hmmmm
Lelaki : begini, sepertinya, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini, karena ini, Cinta terlarang. kamu tahukan ?
Wanita : Lohhhhhhh, kok bisa ? gak ada angin serta badai? kamu kenapa Bebh? ada apa, kamu demam ya ? bukankah kamu bebh yang nembak aku, untuk menjadi pacar kamu, ingat itu ya,tapi, tapi kenapa kamu ingin mengakhirinya ? anehhhhhhhhh, hmmmm
Lelaki : iya, aku tahu, semua ini salahku, aku yang memulainya, makanya karena itu, aku ingin mengakhirinya, kuharap kamu mengerti !!
Wanita : Tapi, kenapa tiba-tiba kamu ingin mengakhirinya dengan beralasan, bahwa cinta ini, cinta terlarang ? bukankah cinta kita sudah berjalan dengan apa adanya tanpa ada kata'' cinta terlarang. ?
Lelaki : Iya, tapi itu dulu, dulu aku tidak begitu paham dan peduli dengan Larangan-larangan agama, namun sekarang aku sadar dan mulai mengerti, ternyata apa yang selama ini kita lakukan, salah kaprah. ini tidak bisa diteruskan, kamu mengertikan ?
Wanita : Ya, aku mengerti, tapi ..................Aku masih mencintaimu ! aku tidak ingin kamu jauh dan meninggalkanku, hiks, hiks, hiks, (baca :nangis)
Lelaki : Begitu juga diriku, yang masih mencintaimu, namun tetap saja ini tidak bisa kita teruskan !. Aku ingin berubah, berubah lebih baik menjadi lelaki yang taat beragama, kumohon ngertiin aku, plisss. frown emotikon
Wanita : Lantas, bagaimana ? atau, kalau begitu Lamar aku, jadikan aku halal bagimu, sehingga cinta ini bukan cinta yg terlarang.
Lelaki : Bukannya aku tidak mau melamarmu, tapi tahu sendirikan, aku hanya lelaki biasa, dan masih bodoh, bagaimana aku bisa membangun sebuah pernikahan tanpa ilmu yang cukup?
Wanita : Terus, bagaimana dund ?
Lelaki : untuk sementara izinkan aku dulu menuntut ilmu, serta menuju Tuhanku.
Wanita : Baik lah, kalau itu yang kamu mau, tapi jangan lupakan aku dalam doamu .hiks, hiks, hiks (baca : nangis)
Lelaki : Tentu, aku tidak melupakanmu, aku akan selalu berdoa untukmu.
BERSAMBUNG.........

Rabu, 18 Maret 2015

النوع الثالث

وهو مازيد فيه ثلاثة أحرف على الثلاثي وهو أربعة أبواب

الباب الأول : استفعل  يستفعل  استفعالا موزونه استخرج  يستخرج  استخراجا  وعلامته أن يكون ماضيه على ستة أحرف بزيادة الهمزة والسين والتاء في أوله وبناؤه للتعدية غالبا وقد يكون لازما مثال المتعدى نحو استخرج زيد المال ومثال اللازم نحو استخرج الطين وقيل لطلب الفعل نحو أستغفر الله أى أطلب المغفرة من الله تعالى 

الباب الثاني : افعوعل  يفعوعل افعيعالا موزونه اعشوشب يعشوشب اعشيشابا وعلامته أن يكون ماضيه على ستة أحرف بزيادة الهمزة في أوله وحرف أخر من جنس عين فعله والواو بين العين واللام  وبناؤه لمبالغة اللازم لأنه يقال عشب الأرض إذا نبت على وجه الأرض في الجملة ويقال اعشوشب الأرض إذا كثر نبات وجه الأرض

الباب الثالث : افعول يفعول افعوالا موزونه اجلوذ يجلوذ اجلواذا وعلامته ان يكون ماضيه على ستة أحرف بزيادة الهمزة في أوله والواوين بين العين واللام وبناؤه أيضا لمبالغة اللازم لأنه يقال جلذ الإبل إذا سار سيرا بسرعة  وبقال اجلوذ الإبل إذا سار سيرا بزيادة سرعة

الباب الرابع : افعال يفعال افعيعالا موزونه احمار يحمار احمرارا وعلامته أن يكون ماضيه على ستة أحرف بزيادة الهمزة في أوله والألف بين العين واللام وحرف اخر من جنس لام فعله في أخره وبناؤه لمبالغة اللازم لكن هذا الباب أبلغ من باب الافعلالا لأنه يقال حمر زيد إذا كان له حمرة في الجملة ويقال احمر زيد إذا كان له حمرة مبالغة ويقال احمار زيد إذا كان له حمرة بزيادة مبالغة

Sabtu, 14 Maret 2015

واثنا عشر بابا منها لما زاد على الثلاثى وهو ثلاثة أنواع

النوع الثاني

وهو مازيد فيه حرفان على الثلاثي وهو خمسة أبواب

الباب الأول :  انفعل ينفعل انفعالا موزونه انكسر ينكسر انكسارا وعلامته أن يكون ماضيه على خمسة أحرف بزيادة الهمزة والنون في أوله وبناؤه للمطوعة ومعنى المطوعة حصول أثر الشيء عن تعلق الفعل المتعدى نحو كسرت الزجاج فاانكسر ذلك الزجاج فان انكسار الزجاج أثر حصل عن تعلق الكسر الذى هو الفعل المتعدى

الباب الثالث : افتعل يفتعل افتعالا موزونه اجتمع يجتمع اجتماعا وعلامته أن يكون ماضيه على خمسة أحرف بزيادة الهمزة في أوله والتاء بين الفاء والعين وبناؤه للمطوعة أيضا نحو جمعت الابل فاجتمع ذلك الابل

الباب الثالث : افعل يفعل افعلالا موزونه احمر يحمر احمرارا وعلامته أن يكون ماضيه على خمسة أحرف بزيادة الهمزة في أوله وحرف اخر من جنس لام فعله في أخره وبناؤه لمبالغة اللازم وقيل للأنوان والعيوب ومثال الألوان نحو احمر زيد ومثال العيوب نحو اعور زيد

الباب الرابع : تفعل يتفعل تفعلا موزونه تكلم يتكلم تكلما وعلامته أن يكون ماضيه على خمسة أحرف بزيادة التاء في أوله وحرف اخر من جنس عين فعله بين الفاء والعين وبناؤه للتكلف ومعنى التكلف تحصيل المطلب شيئا بعد شيء نحو تعلمت العلم مسألة بعد مسألة

البلب الخامس : تفاعل يتفاعل تفاعلا موزونه تباعد يتباعد تباعدا وعلامته أن يكون ماضيه على خمسة أحرف بزيادة التاء في أوله والألف بين الفاء العين وبناؤه للمشاركة بين الاثنين فصاعدا. مثال المشاركة بين الاثنين نحو تباعد زيد عن عمرو ومثال المشاركة بين الاثنين فصاعدا نحو تصالح القوم

Jumat, 13 Maret 2015

التكفير باللازم من أعظم مزالق الإقدام والمخاطرة د. علي بن شايع النفيس

  29/10/2009 G Issue 13545
الخميس 10 ذو القعدة 1430   العدد  13545
 
التكفير باللازم من أعظم مزالق الإقدام والمخاطرة
د. علي بن شايع النفيسة


 
من خلال تجربتي مع الموقوفين في القضايا الفكرية كنت أسأل بحرص واهتمام عن مسوغات التكفير لدى التكفيريين منهم؛ فوجدت أن تلك المسوغات لا تعدو أن تكون شُبهاً يسهل تفنيدها لدى المختصين، خصوصاً إذا كان الموقوف المتلبس بتلك الشُّبه لديه الاستعداد الحقيقي لسماع الحق والإذعان له متى ما أُقيمت عليه الحجة وبان له الصواب المدعوم بقول الله تعالى ومنهج رسول الله وعقيدة أهل السنة والجماعة من الصحابة والتابعين لهم بإحسان من الأئمة الأعلام ممن سطَّروا عقيدة أهل السنة والجماعة، إلا أنني وجدت ثقافة شائعة بينهم قد يدرك بعضهم مدلولاتها، وقد يردد أغلبهم ألفاظها دون أدنى إدراك لتفاصيل مضامينها واستدلالاتها، هذه الثقافة الشائعة هي ما يسميه الفقهاء (التكفير باللازم)، وهي مسألة فقهية من مسائل العقيدة الدقيقة المتخصصة، وقد تناولها العلماء بالبحث والبيان، وسأنقل نصوصاً موثقة في هذا الشأن؛ حتى يستبين الأمر للمختصين، وتقوم الحجة على مَنْ يبحث عن الحق، لكن قبل سرد أقوال العلماء في هذا الشأن لا بد من إيضاح صورة المسألة بشكل مبسط حتى يستطيع غير المتخصصين تصور ما نتحدث عنه: فمعلوم أن من نواقض الإسلام (إن من لا يكفِّر الكافر فهو كافر مثله)، وهذا ناقض صحيح، لكن المعنيّ بالكافر هنا الكافر الأصلي من أصحاب الديانات الأخرى غير الإسلام، لكن المحرضين من منظري الفئة الضالة وظَّفوا هذا الناقض في تكفير من لا يكفِّر الحكام العرب والمسلمين؛ ليجدوا أنفسهم في ورطة شرعية واقعية مفادها ما ذكره ناصر الفهد، أحد منظري الفئة الضالة، في مراجعاته التي بثت عبر التلفزيون السعودي، بأن هذه القاعدة انسحبت كسلسلة على كافة أفراد المجتمع؛ فكل من لا يكفِّر من يعتقدون أنه كافر من حكام أو وزراء أو عسكريين فإنه يكون كافراً عندهم باللازم؛ لأنه لم يكفر الكافر؛ فلزم من هذا تكفير المجتمعات المسلمة جميعاً. وقولهم باطل من أصله؛ لأنه بُني على باطل، وما بُني على باطل فهو باطل، وأعني بالباطل الذي بنوا عليه حكمهم هنا تكفيرهم للحكام العرب والمسلمين ومَن في حكمهم من وزراء عسكريين وغيرهم بمسوغات باطلة وشبهات مضللة لا ينطبق عليها وصف النبي صلى الله عليه وسلم بأنها (كفر بواح عندكم فيه من الله برهان)، علماً بأن الذي يستطيع أن يحكم على الأمور بأنها كفر بواح هم العلماء الراسخون في العلم لا أنصاف طلبة العلم أو شيوخ الإنترنت من مجهولي الأسماء والمنهج والقصد، ثم هل يمكن أن يتصور أن علماء العالم الإسلامي قاطبة وعلماء المملكة العربية السعودية خاصة جهلوا تلك المسوغات ولم يفهموها واقتصر فهمها على هذه الثلة من الشباب الذين تدفعهم العاطفة وينقصهم العلم والعمق في فَهم الشريعة الإسلامية بمقاصدها العظيمة التي تدور حول حفظ الضروريات الخمس بشمولية تتناسب مع الأحوال والأحداث؟

والآن إليك أخي القارئ الكريم بسط المسألة بسطاً علمياً موثقاً: فقد اختلف العلماء في التكفير بالمآل ولوازم الأقوال؛ فذهب قوم إلى أن (لازم المذهب مذهب) فكفروا بالمآل، وقيَّدوا بكون اللزوم بينا غير خفي.

فقال العطار في حاشيته على جمع الجوامع (1-371): (لازم المذهب لا يعد مذهباً إلا أن يكون لازماً بيناً)، وهو موافق لما ذكره الدسوقي في حاشيته (4-301).

واختار قوم أنه ليس بمذهب إذا تبين عدم التزام المتكلم بلازمه، قال الشاطبي في الاعتصام (3-172 - تحقيق مشهور): (الذي كنا نسمعه من الشيوخ أن مذاهب المحققين من أهل الأصول (إن الكفر بالمآل، وليس بكفر في الحال)، كيف والمكفر ينكر ذلك المآل أشد الإنكار، ويرمي مخالفه به، تبين له وجه لزوم الكفر من مقالته، لم يقل بها على حال.

قال شيخ الإسلام بن تيمية في الصارم المسلول ص 517 (التكفير لا يكون بأمر محتمل).

وقال ابن حزم في الفصل (2-369): (وأما من كفر الناس بما تؤول إليه أقوالهم فخطأ؛ لأنه كذب على الخصم، وتقويل له ما لم يقل به)، وقال الحافظ في فتح الباري (12 - 337): (لازم المذهب ليس بمذهب؛ فقد يذكر العالم الشيء ولا يستحضر لازمه حتى إذا عرفه أنكره).

وقال القاري في مرقاة المفاتيح (1- 283): (قال ابن حجر الهيتمي: الصواب عند الأكثرين من علماء السلف والخلف أنا لا نكفر أهل البدع والأهواء إلا إن أتوا بمكفر صريح لا استلزامي؛ لأن الأصح أن لازم المذهب ليس بلازم).

وقال ابن أمير الحاج في التقرير والتحبير (3 - 425): (لازم المذهب ليس بمذهب لصاحبه، فمن يلزمه الكفر ولم يقل به فليس بكافر)، وعليه مشى الإمام الرازي والشيخ عز الدين بن عبدالسلام.

وهو مذهب العز بن عبدالسلام في قواعد الأحكام في مصالح الأنام (ص 172) والزركشي في المنثور والبحر المحيط.

وشدَّد الشوكاني في ذلك فقال في السيل الجرار (4-580): (قد علم كل من كان من الأعلام أن التكفير بالإلزام من أعظم مزالق الاقدام، فمن أراد المخاطرة بدينه فعلى نفسه جنى).

واعلم أن التكفير بالمآل واللازم طريقة أهل البدع والأهواء؛ قال ابن رشد في بداية المجتهد ونهاية المقتصد (2-343): (أكثر أهل البدع إنما يكفرون بالمآل، واختلف قول مالك في التكفير بالمآل، ومعنى التكفير بالمآل أنهم لا يصرحون بقول هو كفر، ولكن يصرحون بأقوال يلزم عنها الكفر، وهم لا يعتقدون ذلك اللزوم بخلاف أهل السنة)، فقد سئل شيخ الإسلام كما في الفتاوى (20-217):

هل لازم المذهب مذهب أم لا؟

فأجاب: (أما قول السائل هل لازم المذهب مذهب أم ليس بمذهب فالصواب أن مذهب الإنسان ليس بمذهب له، إذا لم يلتزمه فإنه إذا كان قد أنكره ونفاه كانت إضافته إليه كذباً عليه، بل ذلك يدل على فساد قوله وتناقضه في المقال، غير التزامه اللوازم التي يظهر أنها من قبل الكفر والمحال مما هو أكثر، فالذين قالوا بأقوال يلزمها أقوال يعلم أنه لا يلتزمها، لكن لم يعلم أنها تلزمه. ولو كان لازم المذهب مذهباً للزم تكفير كل من قال عن الاستواء أو غيره من الصفات إنه مجاز ليس بحقيقة، فإن لازم هذا القول يقتضي أن لا يكون شيء من أسمائه أو صفاته حقيقة، وكل من لم يثبت بين الاسمين قدراً مشتركاً لزم ألا يكون شيء من الإيمان بالله ومعرفته والإقرار به إيماناً، فإنه ما من شيء يثبته القلب، إلا ويقال فيه نظير ما يقال في الآخر، ولازم قول هؤلاء يستلزم قول غلاة الملاحدة المعطلين، الذين هم أكفر من اليهود والنصارى، لكن نعلم أن كثيراً ممن ينفي ذلك لا يعلم لوازم قوله).

وأحسن شيء في هذا الباب ما حرَّره شيخ الإسلام رحمه الله تعالى في القواعد النورانية (ص 128) فقال: (لازم قول الإنسان نوعان، أحدهما: لازم قوله الحق، فهذا مما يجب عليه أن يلتزمه، فإن لازم الحق حق. ويجوز أن يضاف إليه إذا علم من حاله أنه لا يمتنع من التزامه بعد ظهوره، وكثيراً ما يضيفه الناس إلى مذهب الأئمة من هذا الباب.

والثاني: لازم قوله الذي ليس بحق، فهذا لا يجب التزامه؛ إذ أكثر ما فيه أنه قد تناقض، وقد بينت أن التناقض واقع من كل عالم غير النبيين، ثم إن عرف من حاله أنه يلتزمه بعد ظهوره له، فقد يضاف إليه، وإلا فلا يجوز أن يضاف إليه قول لو ظهر له فساده لم يلتزمه؛ لكونه قد قال ما يلزمه وهو لم يشعر بفساد ذلك القول ولا يلزم هذا التفصيل في اختلاف الناس في لازم المذهب هل هو مذهب أو ليس بمذهب، هو أجود من إطلاق أحدهما، فما كان من اللوازم يرضاه القائل بعد وضوحه له فهو قوله، وما لا يرضاه فليس قوله، وإن كان متناقضاً، وهو الفرق بين اللازم الذي يجب التزامه مع لزوم اللازم الذي يجب ترك الملزوم للزومه، فإذا عرف هذا، عرف الفرق بين الواجب من المقالات والواقع منها، وهذا متوجه في اللوازم التي لم يصرح هو بعدم لزومها.

فأما إذا نفى هو اللزوم لم يجز أن يضاف إليه اللازم بحال، وإلا لأضيف إلى كل عالم ما اعتقدنا أن النبي صلى الله عليه وسلم قاله، لكونه ملتزماً لرسالته، فلما لم يضف إليه ما نفاه عن الرسول، وإن كان لازماً له ظهر الفرق بين اللازم الذي لم ينفه واللازم الذي نفاه، ولا يلزم من كونه نصا على الحكم نفيه للزوم ما يلزمه؛ لأنه قد يكون عن اجتهادَيْن في وقتين).