Kamis, 26 Maret 2015

Methode Aqidah Salafi Dalam menyikapi Ayat-ayat shifat (khabariyah)



Untuk mempersingkat, penulis tidak berpanjang lebar menuliskan sejarah maupun biogarafi ‘ulama-‘ulama salafi, dikarenakan waktu yang terbatas dan juga tentunya untuk menghemat energy didalam kesibukan yang selalu menuntut, mungkin pembahasan mengenai keterkaitan tentang faham salafi, langsung saja ke inti sari-nya. Menurut sependek pengetahuan penulis dari hasil membaca beberapa buku kalangan salafi, maupun terjun langsung berdiskusi dengan oknum-oknum salafi, penulis berkesimpulan, bahwa methode yang digunakan aliran salafi dalam menyikapi ayat-ayat shifat (khabariyah) adalah, dengan meng-istbatkan (istbat) makna dzhohir seraya tidak menyerupakan namun ada sesuatu sisi persamaan. Mari kita simak bagaimana sebenarnya methode  yang digunakan kelompok kalangan salafi dalam menyikapi ayat-ayat shifat (khabariyah) dalam berkeyakinan.
Shaikh Utsaimin berkata dalam kitba aqidah washtiyah-nya.

إن الله عز وجل له وجه وله بد وله رجل عز وجل, لكن لا يلزم من أن تكون هذه الأشياء مماثلة للإنسان, فهناك شيء من الشبه, لكن 
ليس على سبيل المماثلة.                                                                                               

Beliau berkata : Sengguhnya Allah Azza wa Jalla mempunyai wajah, dan mempunyai tangan mempunyai kaki Azza wa Jalla, akan tetapi tidak berkonsekwensi serupa dengan manusia, namun ada sisi persamaan disana, Tapi tidak dalam konteks penyerupaan. (terjemah bebas)
Dari pernyataan Utsaimin Rh diatas, penulis menyimpulkan bahwa mereka telah menggunakan methde istbat dalam ayat-ayat shifat (khabariyah) dan jelas berbeda dengan methode Imam asy’ary dan kalangan salaf al-sholeh yang menggunakan tahfwid dan takwil sebagaimana yang telah penulis terangkan dari pembahasan sebelumnya. Sejatinya, pernyataan yang dikemukakan oleh Utsaimin Rh tersebut hanyalah mengikut oleh para pendahulunya Shaik Ibnu Taimyah Rh, dan shaik Muhammad abdul wahhab atau panggilan terkenalnya “Wahabi”. Dan tentunya di amini oleh para ‘ulama-‘ulama salafi lainnya, bahkan memang seperti itu lah keyakinan mereka, tidak heran bila cendikiawan muslim yang berafiliasi salafi di Indonesia mengadopsi faham-faham yang demikian adanya.
Mungkin untuk pembahasan faham salafi kali ini, sementaa dicukupkan sampai disini saja, karena sebenarnya, pernyataan Utsaimin Rh diatas, sudah mewakili faham salafi dalam menyikapi ayat-ayat shifat (khabariyah) dalam Alquran, kendatipun penulis mengutip dari ‘ulama salafi lainnya, tentu ujung-ujungnya sama persis dengan pernyataan Utsaimin diatas. Dan pastinya, inti sari dari pemahaman dan methode terkait, sudah sampai kepada penulis dan rekan pembaca.

 Kesimpulan

Telah sama-sama kita ketahui, ada sisi perbedaan antara faham asy’ari dan salafi dalam menentukan methode yang berkaitan dengan ayat-ayat shifat (khabariya) dalam alquran.
Methode Imam Asya’ari terangkum dengan dua methode, yang pertama Tafhwid, serta yang kedua Ta’wil. Sedangkan methode salafi yang pertama Istbat yang kedua tidak tafhwidh dan tidak ta’wil.
Ini saja lah yang bisa penulis sampaikan mengenai pembahasan seputar faham asy’ari dan salafi, semoga tulisan yang singkat ini, bermanfaat bagi penulis dan para rekan pembaca, wa akhirul kalam, lebih dan kurang penulis haturkan permohonan maaf, karena sesungguhnya Hanya Allah Swt sajalah yang Maha Sempurna,

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
(alquran)

Billahi Taufiq walhidayah, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatu

Rabu, 25 Maret 2015

Secercah Penjelasan tentang Aqidah Iman Asy’ari




Sebelum memasuki inti dari pembahasan  ini, alangkah indah dan baiknya, terlebih dahulu kita mengenal nama dan kuniyah serta gelar dari Sang Imam Ahlusunnah Waljama’ah. Didalam kitab Al-wasit  Fi Aqo’id  Al-imam Asy’ary  yang dikarang oleh cendikiawan muslim Baghdad  Shaik Syahid Ahmad Mukhlis Al-rawi, bahwa nama Imam Asy’ari  adalah  Ali bin Ismail bin Abu Bisyr, kuniyah beliau  Abul Hasan , dan sedangkan gelar-nya adalah  Al-Asy’ari, yang dinisbahkan kepada salah satu sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasllam, yaitu  Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu. Dan sebagaimana yang telah sama-sama kita ketahui bahwa, Imam Asy’ari dikenal sebagai sebagai seorang Mutakallim yang handal dan sangat luar biasa, yang membentengi Aqidah umat Islam dari pemahaman-pemahaman yang telah menyimpang dari ajaran Islam yang suci, sehingga sangat pantas dan layak, bila ajaran serta konsep yang dilahirkan oleh Imam Asy’ari, menjadi panutan serta pegangan bagi seluruh umat Islam dunia, karena sesungguhnya beliau bukanlah menciptakan ajaran baru dalam Islam, namun sebaliknya beliau hanya memperkokoh dan memperkuat ajaran-ajaran Salaf al-shaleh. Beliau lahir pada tahun  260 H di Bashrah, Irak. Namun ada juga yang mengatakan tahun 270 H, ini tentunya disana ada perbedaan pendapat diantara Ahli sejarah dan Ulama, dan pendapat yang dikuatkan oleh Al-hafiz ibnu Asaakir RH, tahun 260 H, begitu juga hal-nya tentang tahun wafatnya Imam Asy’ari Rahimahullah, meskipun ada perbedaan pendapat, namun pendapat yang kuat dan mu’tamad bahwa, beliau wafat di Baghdad tahun 324 H.
Penulis mengutip keterangan dari sebuah kitab yang berjudul أهل السنة الأشاعرة شهادة علماء الأمة  وأدلتهم    Yang dikarang oleh Shaik حمد السنان  فوزي العنجري   bahwa Aqidah Imam Asy’ari tidak berbeda alias sama persis dengan Aqidahnya Para Imam Madzhab, seperti aqidahnya Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah beserta para ashaabnya. (terjemah bebas)
Dan tentunya ini menunjukan bahwa aqidah Imam asy’ari sejalan dengan aqidahnya salafu al-shaleh serta ahli ilmu,  dari zaman kezaman hingga sampai diera globalisai yang serba canggih realita sekarang ini.

Dan tentunya, ketika bebicara tentang Imam Asy’ari, sudah tidak asing lagi ditelinga bagi mereka yang mendengar, melihat dan berpikir, adalah bahwa Imam Asya’ari imamnya Umat Islam mayoritas dari zaman kezaman, masa ke masa di Indonesia, Mesir, serta Negara-negara lainnya didunia yang fana ini. Termaktub dalam kitab     شرح الخريدة البهية  halaman 35, disebutkan bahwa  Shaikh al-Islam  Al’izzu bin Abdissalaam, Dan Ibnu Hajib beserta Ulama-ulama kibar lainnya, menyatakan aqidah Imam Asy’ari dianut oleh para Pengikut Syafi’iyah, Malikiyah, Hanafiyah dan  pembesar-pembesar hanabilah kecuali yang sadz diantara mereka. Ini sejalan dengan keterangan yang penulis paparkan sebelumnya.  Dan diantara pembesar dan pengikut Imam Abul Hasan Asy’ri, seperti  Imam Baqilani,  Abu Ishak al-sayrazi,  Imam Al-ramain, Hujjatu al-Islam Alghazali, Imam Subki, Imam Nawawi, Rafi’I , Amirul mu’minin dalam hadist Ibnu Hajar  asqolaani dan haitami, serta Imam suyuti rahimahumullahu ajma’in dan lain sebagainya yang tidak bisa satu persatu penulis tuliskan, dikarenakan banyaknya jumlah pengikut Imam Asy’ari, dan mereka semua adalah para ahli ilmu dan orang-orang yang sholeh.



Menurut sependek pengetahuan Penulis, bahwa ketika membahas tentang Aqidah didalam beragama, tentu ini berkaitan dengan konsekwensi hukum yang berlaku, kalau misalnya, hukum dalam permasalahan seputar Fiqih hanya berupa wajib, sunnah, makruh dan mubah serta lain sebagainya, maka berbeda dengan permasalahan aqidah, hanya ada dua hukum dalam aqidah, yaitu Iman dan Kafir, karena aqidah adalah  usulluddin atau dasar agama yang tidak boleh salah dalam berkeyakinan atau ada keraguan, mesikupun 1%  dari 100 %, berbeda dengan hal-nya mengenai Fiqih,  jika salah maupun benar , hanya berkaitan dengan dosa, pahala, serta fasiq namun tetap masih dalam golongan umat Islam dan tidak sampai kafir yang nanti kekal dineraka-Nya. Dan tentunya, tidak serta merta kita harus tergesa-gesa mengkafirkan seseorang atau golongan, kelompok dalam aqidah, dikarenakan tidak sejalan dan sepaham dengan keyakinan yang telah kita yakini,  Pengkafiran dalam Aqidah, ada dalam perkara yang dhoruri atau yang Qoth’iyaat,  sebagai contoh, ada seseorang yang tidak meyakini Allah Subhanahu Wata’aalaa itu bukanlah  Tuhan Pencipta alam beserta isinya,  dan tidak beriman bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam utusan Allah Subhanahu Wata’aalaa, serta mengingkari rukun Islam yang lima, dan lain sebagainya yang sifatnya dharury.
Nah, sedangkan permasalahan yag sifatnya bukan dharuri, seperti  istidlalnya para Ulama dan ahli ilmu  dalam menyikapi ayat-ayat sifhat (khabariyah)  didalam Alquran, tentu ini harus membutuhkan kehati-hatian menyimpulkan serta menghukuminya, maka penulis sengaja membatasi pembahasan kali ini, hanya seputar perbedaan pendapat antara Asy’ari dan Salafi dalam konteks aqidah Islamiyah yang terkhusus kepada ayat-ayat Shifat (khabariyah). Untuk kali ini, penulis akan menuliskan  methode Imam Asy’ari dalam menyikapi ayat-ayat shifat ataupun khabariyah dalam Alquran.

Ada dua methode Imam Asy’ari dalam menetapkan ayat-ayat shifat (khabariyah).

Pertama :  Tafhwidh, dan ini selaras dengan pendapat ‘ulama Salaf,
Kedua       : Ta’wil, ini sejalan dengan pendapat ‘ulama Khalaf

Perlu diperhatikan, Tidak semua ‘ulama salaf itu selalu menggunakan method tafhwidh  dalam permasalahan ayat-ayat shifat  (khabariyah),  sehingga bisa dikatakan bahwa ulama salaf  itu selalu tafhwidh, karena terkadang, ada juga diantara ‘ulama salaf  yang menta’wil, dan begitu juga sebaliknya, tidak semua ‘ulama khalaf itu menggunakan methode ta’wil, karena ada juga diantara ‘ulama khalaf memilih tafhwidh dalam permasalahan seputar ayat-ayat shifat. Maka oleh karena itu, boleh dikatakan, bahwa mayoritas ‘ulama salaf itu menggunakan tafhwidh, dan sedangkan ‘ulama khalaf, mayoritasnya menggunakan ta’wil.
Dan  terdapat banyak ulama yang menyebutkan, bahwa imam asy’ari mempunyai dua metodhe, dan ini sejalan dengan pendapat  para ‘ulama-ulama asya’irah, seperti Qhadi baqilani yang disebut sebagai Mu’assis kedua asya’irah, yang beliau ada menfwidh ayat-ayat shifat ataupun khabariyah, seperti dalam kitabnya al-inshof, beliau ada metakwil ayat istiwa denga istilaa’ yang berarti menguasai bukan menetap apalagi bersemayam, serta sebagaiman buku yang penulis baca, ditemukan  ada perkataan Imam Baihaqqi menyatakan, bahwa Imam Asy’ari mentakwil ayat istiwa’ dengan sifat perbuatan (fi’lun), tentu ini sangat jauh sekali dari makna yang sesungguhnya seperti menetap, bersemayam, duduk, dan lain sebagainya menurut makna dzhohirnya.

Mungkin untuk sementara, saya cukupkan sampai disini pembahasan mengenai methode Imam Asy’ari, karena terlalu panjang dan sangat luas pembahasan ini, jadi penulis hanya meringkas seringkas ringkasnya, dan tentunya bisa dikembangkan dalam diskusi nantinya.
Sebelum penulis tutup pembahasan diatas, mari kita simak kalamnya Imam Al-idzi shohibu al-mawaakif, mawaakif salah satu kitab muthawalat dan mu’tamad yang dikaji dimesjid Al-azhar oleh Shaikh Al-mutakallim Hasan syafi’i


يقول الإمام الإيجي رحمه الله :   لما وصف تعالى بالاستواء في قوله تالى : الرحمن على العرش استوى  (طه :5 )

اختلف الأصحاب فيه : فقال الأكثرون : هو الاستيلاء , ويعود الاستواء حينئذ إلى صفة القدرة . قال الشاعر :

فد استوي بشر على العراق                    من غير سيف ودم مهرا ق                                                    

        وقال الأخر :                                                                                                                      

فلما علونا واستوينا عليهم          تركناهم صراعى لنسر وطائر

Minggu, 22 Maret 2015

Perbedaan Pendapat dikalangan Asya'iroh

Meskipun ditemukan adanya perbedaan pendapat, dikalangan Ulama Asya'iroh Ahlussunnah Waljamaah, namun bukan berarti ini semua adalah sesuatu yang bermasalah sehingga harus mengeluarkan mereka dari golongan Asya'iroh.
Mereka tetap dikatakan sebagai Ulama Asya'iroh Ahlussunah Waljamah, karena perbedaan pendapat adalah sesuatu Hal yang biasa dikalangan Ahli Ilmu, ini menunjukan bahwa, tidak ada istilah Taqlid buta dan kefanatikan dalam bermanhaj,
Sebagian kalangan Ulama Asya'iroh ada yang mengatakan bahwa kaum muktazilah sudah keluar dari Islam, karena mereka Muktazila berpendapat al-'adamu (Tidak ada) adalah sesuatu,
Sebagaimana pada umumnya dikalangan Asya'iroh yang namanya sesuatu itu adalah ada wujudnya direalita.
dan jika al-adamu ( Tidak ada) dikatakan sesuatu, maka ini berkonskwensi adanya Alam di Azali, atau bahasa sederhananya ada makhluq yang tidak ada permulaannya alias qodim,
Namun, pendapat yang mu'tamad disisi Ahlussunnah Waljamaah ( Asya'iroh ) adalah,
golongan orang muktazilah masih termasuk Islam. ini lah pendapat yang kuat, karena Para Ulama Mengatakan :
لازم المذهب لا يعد مذهباً إلا أن يكون لازماً بيناً
Wallahu'alam .

Sabtu, 21 Maret 2015

Cerpen

"Cinta terlarang "
Wanita berkulit putih dengan rambut panjang dan kriting, serta hidung yang mancung berkerabu itu terkejut, dan tidak habis pikir, bagaimana bisa kata-kata perpisahan itu diucapkan dari kekasih yang dicintainya,
Terjadilah dialog sengit yang berkecamuk antara dua sepasang kekasih yang belum halal lagi diridhoi.
Namun, sebelum dialog itu terjadi, terlebih dahulu lelaki itu menelepon pacarnya, agar mau bertemu disuatu tempat, yang sunyi sepi tanpa ada seorangpun yang mengganggu,
Hp Nokia C1-00 milik wanita itupun berdering dering, sebagai isyarat bahwa ada yang memanggil-manggil dirinya, siapakah gerangan yang pagi-pagi buta, belum lagi sempat cuci muka, sudah ada yang menelepon. Dengan raut wajah yang cemberut serta rambut yang acak-acakan, tanpa membaca Al-basmalah Hp-nya diangkat.
Lelaki : Assalamu'alaikum Wr wb, Hallo Bebh , sore hari ini, aku ingin bertemu denganmu, Penting kali
Wanita : Waalaikumussalam Wr. wb, ohhh, iya Cintaqu, ada apa ? dan dimana ?
L : nanti saja aku ceritakan ada apanya, kita bertemu ditempat yg biasanya kita mojok. ( baca : duduk berduaan ditempat sepi)
W : iya, sampai ketemu nanti sore, ea my love smile emotikon
L : Oke, siip, Don't forget
Seiring berjalannya waktu, detik demi detik, jam dinding terus berputar, waktu sore mulai ingin menyapa, dan pertemuan itu sudah mulai nampak titik terang. Dengan hati yang bimbang lagi berdoa, lelaki itu sudah bertekad keras, untuk mengakhiri sebuah hubungan yang tidak semestinya, meski berat rasanya, namun dalam hati kecilnya berkata : lebih berat lagi terasa di akhirat, bila hubungan ini tetap diteruskan. Astaghfirullah, mulutnya komat kamit membaca istighfar.
Akhirnya, Tanpa disadari, waktu sore telah tiba, lelaki itupun bergegas, dan berjalan menuju suatu tempat yang dimana, ditempat itu lah dia akan mengakhiri kisah cinta terlarangnya dengan kekasihnya.
Ternyata, wanita (kekasihnya) sudah duluan sampai ditempat itu, duduk manis seraya menunggu pujaan hatinya,
Untuk mempersingkat, terjadilah dialog yang sengit antara Sepasang kekasih terlarang itu.
Begini dialognya_
Lelaki : sebenarnya, ada yang ingin kusampaikan kepadamu, tapi aku bingung dari mana memulainya.
Wanita : Emank ada apa rupanya? kok bingung sihhh, aneeeeeh. hmmmm
Lelaki : begini, sepertinya, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini, karena ini, Cinta terlarang. kamu tahukan ?
Wanita : Lohhhhhhh, kok bisa ? gak ada angin serta badai? kamu kenapa Bebh? ada apa, kamu demam ya ? bukankah kamu bebh yang nembak aku, untuk menjadi pacar kamu, ingat itu ya,tapi, tapi kenapa kamu ingin mengakhirinya ? anehhhhhhhhh, hmmmm
Lelaki : iya, aku tahu, semua ini salahku, aku yang memulainya, makanya karena itu, aku ingin mengakhirinya, kuharap kamu mengerti !!
Wanita : Tapi, kenapa tiba-tiba kamu ingin mengakhirinya dengan beralasan, bahwa cinta ini, cinta terlarang ? bukankah cinta kita sudah berjalan dengan apa adanya tanpa ada kata'' cinta terlarang. ?
Lelaki : Iya, tapi itu dulu, dulu aku tidak begitu paham dan peduli dengan Larangan-larangan agama, namun sekarang aku sadar dan mulai mengerti, ternyata apa yang selama ini kita lakukan, salah kaprah. ini tidak bisa diteruskan, kamu mengertikan ?
Wanita : Ya, aku mengerti, tapi ..................Aku masih mencintaimu ! aku tidak ingin kamu jauh dan meninggalkanku, hiks, hiks, hiks, (baca :nangis)
Lelaki : Begitu juga diriku, yang masih mencintaimu, namun tetap saja ini tidak bisa kita teruskan !. Aku ingin berubah, berubah lebih baik menjadi lelaki yang taat beragama, kumohon ngertiin aku, plisss. frown emotikon
Wanita : Lantas, bagaimana ? atau, kalau begitu Lamar aku, jadikan aku halal bagimu, sehingga cinta ini bukan cinta yg terlarang.
Lelaki : Bukannya aku tidak mau melamarmu, tapi tahu sendirikan, aku hanya lelaki biasa, dan masih bodoh, bagaimana aku bisa membangun sebuah pernikahan tanpa ilmu yang cukup?
Wanita : Terus, bagaimana dund ?
Lelaki : untuk sementara izinkan aku dulu menuntut ilmu, serta menuju Tuhanku.
Wanita : Baik lah, kalau itu yang kamu mau, tapi jangan lupakan aku dalam doamu .hiks, hiks, hiks (baca : nangis)
Lelaki : Tentu, aku tidak melupakanmu, aku akan selalu berdoa untukmu.
BERSAMBUNG.........

Rabu, 18 Maret 2015

النوع الثالث

وهو مازيد فيه ثلاثة أحرف على الثلاثي وهو أربعة أبواب

الباب الأول : استفعل  يستفعل  استفعالا موزونه استخرج  يستخرج  استخراجا  وعلامته أن يكون ماضيه على ستة أحرف بزيادة الهمزة والسين والتاء في أوله وبناؤه للتعدية غالبا وقد يكون لازما مثال المتعدى نحو استخرج زيد المال ومثال اللازم نحو استخرج الطين وقيل لطلب الفعل نحو أستغفر الله أى أطلب المغفرة من الله تعالى 

الباب الثاني : افعوعل  يفعوعل افعيعالا موزونه اعشوشب يعشوشب اعشيشابا وعلامته أن يكون ماضيه على ستة أحرف بزيادة الهمزة في أوله وحرف أخر من جنس عين فعله والواو بين العين واللام  وبناؤه لمبالغة اللازم لأنه يقال عشب الأرض إذا نبت على وجه الأرض في الجملة ويقال اعشوشب الأرض إذا كثر نبات وجه الأرض

الباب الثالث : افعول يفعول افعوالا موزونه اجلوذ يجلوذ اجلواذا وعلامته ان يكون ماضيه على ستة أحرف بزيادة الهمزة في أوله والواوين بين العين واللام وبناؤه أيضا لمبالغة اللازم لأنه يقال جلذ الإبل إذا سار سيرا بسرعة  وبقال اجلوذ الإبل إذا سار سيرا بزيادة سرعة

الباب الرابع : افعال يفعال افعيعالا موزونه احمار يحمار احمرارا وعلامته أن يكون ماضيه على ستة أحرف بزيادة الهمزة في أوله والألف بين العين واللام وحرف اخر من جنس لام فعله في أخره وبناؤه لمبالغة اللازم لكن هذا الباب أبلغ من باب الافعلالا لأنه يقال حمر زيد إذا كان له حمرة في الجملة ويقال احمر زيد إذا كان له حمرة مبالغة ويقال احمار زيد إذا كان له حمرة بزيادة مبالغة

Sabtu, 14 Maret 2015

واثنا عشر بابا منها لما زاد على الثلاثى وهو ثلاثة أنواع

النوع الثاني

وهو مازيد فيه حرفان على الثلاثي وهو خمسة أبواب

الباب الأول :  انفعل ينفعل انفعالا موزونه انكسر ينكسر انكسارا وعلامته أن يكون ماضيه على خمسة أحرف بزيادة الهمزة والنون في أوله وبناؤه للمطوعة ومعنى المطوعة حصول أثر الشيء عن تعلق الفعل المتعدى نحو كسرت الزجاج فاانكسر ذلك الزجاج فان انكسار الزجاج أثر حصل عن تعلق الكسر الذى هو الفعل المتعدى

الباب الثالث : افتعل يفتعل افتعالا موزونه اجتمع يجتمع اجتماعا وعلامته أن يكون ماضيه على خمسة أحرف بزيادة الهمزة في أوله والتاء بين الفاء والعين وبناؤه للمطوعة أيضا نحو جمعت الابل فاجتمع ذلك الابل

الباب الثالث : افعل يفعل افعلالا موزونه احمر يحمر احمرارا وعلامته أن يكون ماضيه على خمسة أحرف بزيادة الهمزة في أوله وحرف اخر من جنس لام فعله في أخره وبناؤه لمبالغة اللازم وقيل للأنوان والعيوب ومثال الألوان نحو احمر زيد ومثال العيوب نحو اعور زيد

الباب الرابع : تفعل يتفعل تفعلا موزونه تكلم يتكلم تكلما وعلامته أن يكون ماضيه على خمسة أحرف بزيادة التاء في أوله وحرف اخر من جنس عين فعله بين الفاء والعين وبناؤه للتكلف ومعنى التكلف تحصيل المطلب شيئا بعد شيء نحو تعلمت العلم مسألة بعد مسألة

البلب الخامس : تفاعل يتفاعل تفاعلا موزونه تباعد يتباعد تباعدا وعلامته أن يكون ماضيه على خمسة أحرف بزيادة التاء في أوله والألف بين الفاء العين وبناؤه للمشاركة بين الاثنين فصاعدا. مثال المشاركة بين الاثنين نحو تباعد زيد عن عمرو ومثال المشاركة بين الاثنين فصاعدا نحو تصالح القوم