Adapun Ulama salaf mengambil sikap menyerahkan arti sesungguhnya kepada Allah Yang Maha Mengetahui dengan disertai tetap menjaga untuk tidak menjatuhkan dirinya dalam berbagai penyerupaan.
Semisal Ayat :
يدالله فوق أيديهم
Yang pertama berargumen jika Yad ini menunjukkan shifat, hal ini identik dengan kekuasaan, oleh karena itu, maka Yad disini sudah tidak bisa disifati lagi, sebab mana mungkin sifat itu bisa disifati lagi.
Dan jika Yad ini menunjukkan arti Dzat, maka hal ini sangat mustahil, sebab tidak mungkin Allah memiliki bagian bagian dari DzatNya, jika Allah memiliki bagian bagian DzatNya, berarti Dzat Allah tersusun dari bagian bagian tersebut yang mana hal ini menyerupai Mahluq secara faktanya, bukankah Allah telah menyatakan sendiri bahwa Allah tidak menyerupai siapapun dan apapun?
Menyerupai ini umum, baik menyerupai dalam Dzat, sifat dan perbuatanNya.
Kesalahan fatal dalam memahami arti Shifat dan Dzat ini sering menggelincirkan seseorang untuk jatuh dalam penyerupaan, walaupun mereka sendiri sebenarnya sangat berusaha keras untuk menghindarinya.
Satu contoh adalah " Allah Maha Mendengar" maka mereka berasumsi bahwa mendengar itu adalah akibat dari berfungsinya telinga, padahal telinga itu Dzat, sedangkan mendengar itu sifat.
Padahal lagi, belum tentu mendengar itu adalah akibat dari berfungsinya telinga, kita bisa saja mendengar suara hati kita baik pelan dan kerasnya dalam keadaan kita menutup kedua telinga kita.
Belum lagi mereka tidak memahami arti dari kalimat yang menunjukkan perbuatan, mereka mencampur aduk antara sifat, Dzat dan perbuatan dalam satu rangkaian maksudnya.
وكل نص أوهم التشبيها <> أوله أو فوض ورم تنزيها
(Nadhom Al Maslakul 'Abid yang biasa diajarkan di madrasah diniyyah klas 6 ibtidak)
ditulis oleh :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar